Ponco Waliko



Filed under : Budaya, Sejarah

Ponco Waliko

pWaliko

Ponco Waliko adalah 5 wejangan yang ‘tergantung’ bisu di dinding petilasan Makam Panggung yang ada di belakang Pendopo Agung Trowulan di Mojokerto. Wejangan itu tampak biasa-biasa saja, namun ketika angan-angan menyentuh ujung alam metafisis, kita seperti terbangun, terjaga dan dipaksa untuk terus mengulang pemaknaan wejangan yang tampak ‘biasa-biasa’ saja itu.

tr_1

Ketika Team Napak Tilas Crew Film Gajah Mada yang terdiri dari Ibnu R. Farhan, Maryono H.S. dan Ucup Supena tiba di Trowulan malam tanggal 15 Juli 2013, dan diterima dengan rasa ‘rindu’ oleh Juru Kunci Suroto Jadu, menjadi begitu serius mengapresiasi makna dan isi Ponco Waliko.

Sampai menjelang sahur, perbincangan semakin hangat.

tr_2

Akirnya, atau setidaknya, pembicaraan yang penuh rasa rindu memaknai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa itu coba menafsrkan inti dari isi Ponco Waliko itu, yang antara lain muncul pemikiran bahwa penggagas wejangan itu rasanya sangat ingin mengatakan bahwa kesederhanaan pemikiran dan perenungan terhadap alam semesta ini akan menciptakan kejujuran filosofi yang justru sangat hakiki, yaitu patuh pada hakikat kemanusiaan yang memang sangat sederhana, bahwa manusia tak punya hak untuk menciptakan ‘gagasan’ kebenaran, karena itu punya Tuhan, dan sudah ditanamkan di jiwa manusia, jauh sebelum manusia dilahirkan. Ketika manusia mampu berlaku jujur, kejahatan dan angkara murka menjadi tak menakutkan, karena kebenaran adalah sebuah kejujuran, setidaknya itu kata Ponco Waliko. Salam hormat untuk bapak Sajadu.

Salam Nusantara..!

Renny Masmada

2 Responses to “Ponco Waliko”

  1. Preman SERP says:

    Ini monumen di Trowulan ya…wah..kata-kata wejangannya sangat menginspirasi buat saya… Keren banget dan inspiring pokoknya…
    Pncowaliko….

  • Ponco Waliko | Film Gajah Mada — July 28, 2013 @ 5:14 am

  • RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

    Leave a reply